Senin, 16 Januari 2012
Indonesia tidak butuh UU Kerukunan Umat Beragama
Kamis, 24 Februari 2011
ALLAHU AKBAR, ALLAH MAHA BESAR
ALLAH MAHA BESAR…….
Setiap kusebut Asma ini,
sesungguhnya hatiku bergetar,
getar oleh rasa rindu untuk bertemu,
dan berbicara empat-mata dengan-NYA.
Rupanya kerinduanku dijawab-NYA,
dengan menampakkan wajah-NYA,
di depan mata-hatiku.
Maka dengan sepenuh kemanjaan,
aku berkata kepada-NYA:
“Engkaulah BAPA-ku,
juga BAPA semua orang,
juga BAPA sekalian yang ada!”
ALLAHU AKBAR…….
Ketika Asma itu kusebut dalam keheningan,
tampaklah di depanku,
seraut wajah yang begitu agung,
sinar mata-NYA yang teramat sejuk memandangku dengan amat kasih,
kubalas menatap wajah-NYA,
kudapati jiwaku damai-bahagia tak terkira.
Ketika aku memasuki keadaan seperti itu,
kenakalanku sebagai yang telah diangkat menjadi anak-NYA,
memberanikan diri berkata:
“BAPA, ada teriakan sejumlah orang menyebut Asma-MU… ALLAAAHU AKBAR,
sambil berlari mengacung-acungkan golok dan pentungan,
sorot matanya menyala,
pandangannya beringas menebar benci,
tumpahkan darah orang-orang sesat,
bunuh para kafir,
ALLAAAHU AKBAR….!”
Selesai berkata seperti itu,
kupandang terus wajah-NYA,
menunggu reaksi-NYA.
Kulihat dalam mata-hati,
BAPA-ku nampak sedih,
lalu mengedarkan pandangan mata-NYA ke segala arah,
kepada orang-orang yang mengejar,
kepada orang-orang yang dikejar,
seraya bergumam: “Semuanya AKU kasihi tanpa batas,
sejak awal mula,
untuk seterusnya,
karena AKU Yang Maha Kuasa ini,
tak mampu untuk tidak mengasihi manusia yang KU-ciptakan,
dengan sepenuh hati-KU!”
Celtic’73.
Sabtu, 18 Juli 2009
Atas Nama Siapa Lagi?

luka ini belum juga hilang
masih membekas, dan tak elok dipandang
luka ini belum juga kering
ngilunya merusak emosi jiwa hingga garing
pagi ini luka ini kembali berulang
menyayat nyerinya bukan kepalang
menusuk uluhati hingga ubun-ubun
menggoyang tubuh terhuyung-huyung
semalam, anak lelakiku yang belum genap remaja
mendadak mencengkeram lengan ibunya dalam nyenyaknya
menenggelamkan wajahnya dibawah bantalnya
seakan wajah bengismu sudah dikelopak matanya
sekalipun aku bukan gambaran idealmu
tapi, kau tak harus membenciku
biarkan aku ambil jalanku, seperti kau meniti jalanmu
bukankah dermaga yang sama yang kita tuju?
janganlah kau kehilangan daya pesona dan persuasi kata-kata
hingga kau membabibuta begini rupa...
atas nama siapa lagi kemarahan ini kau persembahkan?
sekira Sang Maha yang hendak kau bela, bukankah Ia pasti Digdaya?
sekira yang merasa sang maha hendak kau junjung, mengapa mesti begini caranya?
atau jangan-jangan... ulah kau saja yang ingin naik surga dengan tiket murahan?
atau…
Jumat, 10 Juli 2009
Di zamannya, penyair kondang William Shakespeare pernah berbicara tentang kemiskinan dan keadilan dalam karya dramanya yang berjudul King Lear. Selasa, 12 Mei 2009
TRAGEDI SEBELAS TAHUN SILAM
Aku mengenang bukan untuk meratapTapi, agar aku lebih tegar menatap!
Hari ini, 12 Mei 1998
Kukenang sebuah episode perjalanan kemanusiaan bangsaku:
Bersama dengan seribu lebih meregang nyawa,
empat manusia pilar masa depan negriku terenggut rohnya dengan sia-sia
Dan tak terbilang penderitaan saudaraku yang lain, hingga detik ini masih menggelayut denyutnya
"Perjuangan pasti ada korban!", kata mereka mencari pembenar
"Omong kosong macam apa itu?", nuraniku menggugat
Wahai, Sang Pemilik Kehidupan...
kunaikan permohonan kehadirat-Mu bagi saudara-saudaraku yang tak diduniaku lagi;
tempatkanlah mereka ditempat yang tak terjangkau lagi oleh kebiadaban.
kuhunjukkan pula kehadapan-MU bagi mereka yang tak memiliki nurani lagi;
giringlah mereka ke liang pertobatan, agar mereka mati untuk hidup lagi dalam kemuliaan-Mu.
Aku mengenang bukan untuk meratap
Tapi, agar aku lebih bijak menatap!
Senin, 19 Januari 2009
SONG FOR GAZA
terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja...
perang dimulai dari hati yang sakit;
sakit karena dendam
sakit karena iri
sakit karena culas
entah sakit karena apalagi...
hentikan perangmu sekarang juga!
mulailah dengan kerendahan hatimu,
bukan dengan mengumbar amarahmu!
jangan biarkan kehendak bebasmu liar tanpa kendali,
atau engkau sudah kehilangan hatimu?
coba dengar senandung pengharapan ini;
semoga kau akan tahu jalan kedamaian yang hakiki.
WE WILL NOT GO DOWN
Composed by Michael Heart
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Selasa, 01 April 2008
Tragedi Kemanusiaan Mei 1998

Sebagai Anak Bangsa sepatutnya kita bertanya kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan Republik Indonesia,"apa sesungguhnya yang terjadi di "balik panggung" politik pada waktu itu, sehingga terjadi tragedi Mei 1998?
Kerusuhan besar dan sangat biadab terjadi di kota-kota besar; Jakarta, Solo, Yogyakarta, Semarang Surabaya, dan kota-kota lainnya. Kerusahan tersebut menelan korban yang tidak sedikit rakyat Indonesia. Mereka ditembaki, dirampok, dijarah, diperkosa, bahkan ada yang (sengaja) dipanggang di Supermarket dan SuperMall. Anti Cina merebak menjadi isu (pembelokan) yang sangat panas yang mampu membakar emosi rakyat yang dilanda krisis ekonomi. Mereka rela menjadi bangsa bar-bar, yang tidak mampu menggunakan hati nuraninya lagi ketika bertindak anarkis.
Sejak tragedi tersebut, Indonesia telah berganti 5 Presiden, namun tragedi memilukan itu tidak pernah terungkap, masih tetap gelap gulita. Fakta korban kekerasan yang ditemukan dilapangan seolah-olah dianggap seperti "dunia khayal" belaka, betapa tidak, hingga saat ini tidak ada upaya Pemerintah yang nampak untuk menguak tabir gelap tersebut.
Overseas Think Tank for Indonesia membuat Petisi untuk Memperingati 10 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998.
Sekiranya Anda bersimpati mendukung petisi tersebut, silakan baca PROPOSAL dibawah ini atau klik disini !
Mari kita berjuang! Demi kemaslahatan seluruh Rakyat Indonesia!!!
Proposal Renungan Kemanusiaan Sedunia Dalam Memperingati 10 tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998
Latar Belakang
“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.
Hampir seratus perempuan Indonesia etnis Tionghoa menderita kekerasan seksual dalam tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998 dan 1.339 warga Indonesia menderita kematian dini di beberapa supermarket yang dibakar gerakan massa. Penembakan yang menyebabkan kematian dini empat mahasiswa Universitas Trisakti mendahului tragedi Mei. Langit siang Jakarta menjadi gelap dan langit malam menjadi merah membara oleh kobaran asap dan pembakaran terhadap lebih dari 5.723 bangunan, 1948 kendaraan dan 516 fasilitas umum dengan total kerugian material, moral dan jiwa yang tak terhargai. Kekerasan serupa juga berlangsung di beberapa kota lain, seperti Surabaya, Palembang, Solo dan Lampung (Jusuf, Timbul, Gultom & Frishka, 2007).
Sepuluh tahun pasca-tragedi Mei 1998, kita mendengar ratapan keluarga korban, “Hati saya masih sangat perih. Hidup saya tak berarti, hampa. Sampai kapan pun saya tidak akan dapat melupakan peristiwa biadab yang merengut nyawa anak saya dalam tragedi Mei 1998. Dia dituduh penjarah, padahal ia korban. Saya hendak mencari keadilan, tetapi kepada siapa? Mengapa ini harus terjadi?”
Kekerasan dan diskriminasi seperti Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 telah berlangsung di pertiwi Indonesia lebih dari tiga ratus tahun. Pada tahun 1740, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier membantai lebih dari 10.000 warga Nusantara di Batavia (Setiono, 2003).
Pada tanggal 31 Oktober 1918, sebagai akibat politik adu domba pemerintah kolonial Belanda, rumah-rumah dan toko-toko di kota Kudus dijarah dan dibakar habis oleh ribuan massa yang datang dari Mayong, Jepara, Pati, Demak dan daerah sekitarnya. Ratusan warga Nusantara menderita luka-luka dan enam belas meninggal dunia secara dini.
Ketika kalah perang dan menarik diri pada Perang Dunia II, tentara Belanda mendobrak, menjarah, dan menghancurkan banyak rumah, toko dan ratusan pabrik milik penduduk Indonesia. Sebagian rakyat Indonesia meniru perbuatan yang merendahkan kemanusiaan ini.
Jepang menggantikan Belanda sebagai penjajah Indonesia. Mereka juga menggelar kekerasan dan diskriminasi. Mereka memutus ikatan komunitas antara warga minoritas dan mayoritas Indonesia. Salah satu pembantaian terjadi pada akhir Oktober 1943, yang dikenal dengan “Pontianak Affair” dimana sebanyak 1.500 jiwa melayang, 854 di antaranya minoritas (Purdey, 2006).
Dengan mundurnya Jepang dari bumi Indonesia, Belanda ingin kembali lagi melalui tentara NICA (Nederlandsch Indie Civil Administration). Mereka berhasil mengadu domba rakyat Indonesia. Pada Mei 1946, sebanyak 635 orang, termasuk 136 perempuan dan anak-anak di daerah Tangerang dan sekitarnya menjadi korban pembunuhan. 1.268 rumah dibakar dan 236 juga mengalami kerusakan (Setiono, 2006a).
Kemudian berlangsung rangkaian pembantaian, penjarahan dan pembakaran atas rumah-rumah, tokoh-tokoh, pabrik-pabrik dan kendaraan-kendaraan di Bagan Siapi-Api, Kuningan, Majelengka, Indramayu, Pekalongan, tegal, Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari, Gombong, Lumajang, Jember, Malang, Lawang, Singosari, dan sebagainya.
Kekerasan dan diskriminasi belum usai pasca-kemerdekaan. Pada 10 Mei 1963, tindakan anarkis kembali terjadi. Akibat senggolan motor terhadap seorang mahasiswa, massa yang mengalami provokasi melakukan aksi penjarahan, perusakan, dan pembakaran di Bandung, dan kemudian meluas ke kota-kota sekitarnya, seperti Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi.
Operasi militer terhadap mereka yang didakwa terlibat dalam G30S (Gerakan 30 September) yang dimulai pada tahun 1965 mengakibatkan jatuhnya korban jiwa laki-laki dan perempuan, minoritas dan mayoritas, Muslim dan non-Muslim dalam jumlah jutaan. Pada tahun 1967, dengan alasan menumpas Pasukan Gerilyawan Rakyat Serawak (PGRS) — kembali lagi tebukti betapa rapuhnya persaudaran kita sebagai rakyat Indonesia — kita berhasil diprovokasi sehingga terjadi aksi pembantaian di desa-desa pedalaman Kalimantan Barat yang mengakibatkan puluhan ribu orang mengungsi ke Singkawang dan Pontianak.
Pada tanggal 15 Januari 1974 protes yang kemudian dikenal dengan peristiwa Malari meluas menjadi aksi penjarahan, pembakaran dan serangan terhadap pertokoan dan penghuninya di Glodok, pasar Senen dan Blok M, Jakarta.
Kita masih mencatat saudara-saudari kita yang menjadi korban kekerasan, seperti dalam peristiwa Penembakan Misterius, Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, dan Penculikan Aktivis 1997-1998.
Menjelang penarikan Tentara nasional Indonesia (TNI) di Timor Leste pada akhir tahun 1999, berlangsung pembunuhan, pembakaran, pengrusakan dan penjarahan massal. Selama konflik dan pendudukan TNI, sebanyak 125.000 warga Timor Leste diperkirakan meninggal secara dini (Vickers, 2007).
Kekerasan dan diskriminasi baik dalam skala besar dan kecil, lokal dan nasional, besifat ras dan agama, politik dan non-politik seperti di atas masih mungkin berlangsung di masa depan jika kita, bangsa Indonesia, membiarkan para pemeluk berhala kekerasan dan diskriminasi menjalankan aksinya.
Kekerasan dan diskriminasi berlangsung karena individu atau kelompok orang yang memperebutkan dan mempertahankan kekuasanaan mereka secara rakus. Untuk tujuan politik ini, mereka mengadu domba warga Indonesia dengan mengeksploitasi sentimen suku, agama, ras, dan antarbudaya. Sebagai pencinta Indonesia baru tanpa kekerasan, kita harus menghentikan tindakan yang melanggar kemanusiaan ini.
Selain warna kehidupan yang penuh dengan kekerasan dan diskriminasi, kita tahu bahwa nenek moyang kita pernah hidup dengan rukun dengan bangsa lain yang menetap dan menjadi penduduk Nusantara. Kita merindukan dan menyerukan untuk hidup bersama secara damai demi kesatuan bangsa.
Hampir ribuan tahun silam penduduk Nusantara membuahkan karya pembuatan batu bata dan genting guna membangun rumah. Kehidupan bersama yang damai juga menelurkan penggunaan jarum untuk membuat pakaian dan menghasilkan cocok tanam dan pengelolaan padi secara lebih efisien untuk kelangsungan hidup (Adam, 2002).
Kita juga menjalin kerja sama dengan para pendatang dari luar untuk membangun galangan kapal perang dan merakit teknologi mesiu dan meriam secara bersama. Karena itulah, nenek moyong kita berhasil mempersatukan Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit.
Melalui kerja sama dengan Laksaman Cheng Ho dan para Wali Songo, Islam merasuki bumi Nusantara. Pada kesempatan itu pula, para wali, diantaranya Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan Ampel ((Bong Swi Hoo) dan Sunan Jati (Toh A Bo), mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak. Sultan pertama kerajaan Islam Demak, Raden Patah juga dikenal sebagai Jin Bun atau Cek Ko Po (Qurtuby, 2003).
Kerja sama yang harmonis untuk mengusir penjajah dari muka bumi Nusantara juga terlihat dalam Perang Jawa (1825-1830). Dalam perang ini, Tan Djin Sing secara aktif membantu Pangeran Diponegoro antara lain dengan memberikan sumbangan dana, kuda kesayangannya untuk Pangeran Diponegoro dan melatih para pemimpin pasukannya dengan ilmu bela diri (Setiono, 2006b).
Para pendahulu kita telah bekerja sama secara harmonis untuk menyatukan Indonesia modern di bawah Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928. Harian Sin Po untuk pertama kalinya menerbitkan lirik lagu Indonesia Raya dan mempropagandakan penggunaan nama “Indonesia” untuk menggantikan “Hindia Belanda”. Kwee Thiam Hong (Daud Budiman), Ong Khai Siang, Jong Liaw Thoan Hok, Thio Jin Kwee dan Muhammad Chai terlibat dalam Sumpah Pemuda (Wijayakusuma, 1999).
Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei dan Tan Eng Hoa juga terlibat aktif dalam merumuskan Undang-Undang Dasar Negara RI pada tahun 1945 (Suryadinata, 2005).
Perjuangan panjang Republik Indonesia hingga saat ini adalah hasil kerja sama yang harmonis dari para pendahulu kita. Oleh karena itu, siapa saja yang tinggal di Indonesia atau menjadi warga negara Indonesia berhak menerima perlakuan yang berperikemanusiaan, tanpa kekerasan dan diskriminasi.
Pada peringatan 10 tahun tragedi kemanusiaan Mei 1998, kami mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan Mei 1998, dan mengadili para pelakunya.
Kami mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk menindak secara hukum individu atau kelompok yang mengeksploitasi suku, agama, ras, dan antarbudaya untuk kekerasan dan diskriminasi terhadap target korbannya.
Kami mengundang semua warga Indonesia dan warga dunia yang peduli Indonesia untuk menciptakan Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi
Nama Kegiatan
Kami menamakan kegiatan dalam rangka memperingati 10 tahun Tragedi Mei 1998 “Renungan Kemanusiaan Sedunia”.
Tujuan Kegiatan
Renungan Kemanusiaan Sedunia mempunyai tiga tujuan utama, yaitu:
Pertama, mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan Mei 1998, dan mengadili para pelakunya.
Kedua, mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk menindak secara hukum individu atau kelompok yang mengeksploitasi suku, agama, ras, dan antarbudaya untuk kekerasan dan diskriminasi terhadap target korbannya.
Ketiga, mengundang semua warga Indonesia dan warga dunia yang peduli Indonesia untuk menciptakan Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi.
Pelaksana dan Penggagas Kegiatan
Pelaksana kegiatan adalah semua pihak, baik individu maupun organisasi yang mendukung tujuan kegiatan ini dan mencatatkan diri dalam petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi” seperti terlampir melalui website Peaceful Indonesia (http://www.peacefulindonesia.com/).
Penggagas kegiatan ini adalah Overseas Think Tank for Indonesia/OTTI (http://www.overseasthinktankforindonesia.com/), suatu paguyuban lingkar studi mengenai Indonesia dari perspektif akademisi-aktivis kemanusiaan yang berpusat di Kalifornia, Amerika Serikat.
Cakupan, Waktu dan Tempat Kegiatan
Cakupan, waktu dan tempat kegiatan Renungan Kemanusiaan Sedunia terdiri dari pencatatan diri sebagai peserta petisi dan peserta kegiatan, penginformasian rencana kegiatan dan kegiatan, renungan kemanusiaan sedunia diikuti oleh orasi, seminar atau diskusi, dan pengiriman petisi.
Pertama, kami menghimbau anda untuk mendukung dan menjadi peserta dari kegiatan ini dengan memasukkan petisi Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi” melalui web site Peaceful Indonesia dengan mengklik “Masukkan Petisi” (http://www.peacefulindonesia.com/petition/) antara tanggal 24 Maret 2008 sampai tanggal 1 Mei 2008.
Kedua, kami mendorong Anda untuk memasang banner Renungan Sedunia 10 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 di web site atau di blog masing-masing. Pilihan banner ini bisa di-download dengan meng-klik “Banners” (http://www.peacefulindonesia.com/banners/) di web site Peaceful Indonesia.
Ketiga, kami mengharapkan Anda untuk mengirimkan informasi rencana kegiatan dan kegiatan peringatan 10 tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 berupa teks/tulisan, gambar dan atau video/film ke web site Peaceful Indonesia dengan ditujukan ke peacefulindonesia[at]gmail.com
Kempat, kami meminta Anda untuk melakukan Renungan Kemanusiaan Sedunia dengan membacakan petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi” (seperti terlampir) dan diikuti oleh orasi yang diadakan pada tanggal 13-15 Mei 2008 di seluruh dunia di wilayah atau negara masing-masing.
Kelima, kami mendorong Anda untuk mengadakan seminar atau diskusi mengenai “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi” pada bulan Mei 2008.
Keenam, kami akan mengirimkan petisi kepada Presiden Republik Indonesia dan meneruskannya ke semua instansi, organisasi dan individu yang terkait di Indonesia dan di luar Indonesia. Kami memperkirakan semua pihak terkait sudah menerima petisi ini pada tanggal 10 Mei 2008.
Kami menyerahkan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan sepenunya kepada masing-masing individu dan organisasi yang bergabung dalam petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi.”
Penutup
Demikian proposal kami. Kami berharap semua pihak terpanggil dan tergerak dalam mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas dan mengadili para pelaku kejahatan kemanusiaan, termasuk Tragedi Kemusiaan Mei 1998, dan menciptakan tatanan hidup bersama menuju Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi.
Kami mengundang sudara-saudari untuk mengunjungi web site Peaceful Indonesia (http://www.peacefulindonesia.com/) dan mengisi lembaran petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi.”
Untuk keterangan lebih lanjut, kami mempersilahkan saudara-saudari untuk menghubungi Mutiara Andalas, SJ, dan Dr. Beni Bevly di peacefulindonesia[at]gmail[dot]com.
Hormat Kami,
Mutiara Andalas, SJ dan Dr. Beni Bevly
Overseas Think Tank for Indonesia
Berkeley, Jumat, 14 Maret 2008