“Sebuah keahlian
dapat dikuasai hanya dengan latihan, latihan, dan latihan.”
(effendi Budi
P.)
Di sebuah Bandara Internasional tampak aktivitas orang
yang berdesakan, sebagian orang untuk check-in dan yang lainya untuk
urusan-urusan lainnya.
Seorang petugas sebuah penerbangan sedang sibuk melayani
calon penumpangnya. Karena kesibukan yang luar biasa, petugas tersebut
melakukan kecerobohan kecil, yaitu ketika akan menimbang berat koper tersebut
ia mengangkat dengan cara diseret, maka koper tersebut tergores oleh bagian
ujung tempat timbangan, dan meninggalkan goresan yang cukup panjang. Spontan,
melihat kejadian itu, maka mata calon penumpang tersebut langsung membelalak,
dia marah, menuding, mengumpat dan hampir semua jenis sumpah serapah dia
lontarkan, namun si petugas penerbangan itu dengan wajah yang sangat tenang,
tetap tersenyum sambil meminta maaf, terus bekerja mengetikkan data pada
komputer dan merekatkan label pada koper itu.
Kejadian tersebut berlangsung cukup lama, pada akhirnya
tetap dengan wajah yang memerah penumpang tersebut meninggalkan tempat pelayanan
maskapai penerbangan itu. Lalu, calon penumpang berikutnya yang antri
dibelakangnya ketika sudah mencapai gilirannya berusaha menghibur petugas
penerbangan tersebut dengan pujian, “Wah,
Anda ini hebat, sabar sekali, meskipun sudah dimarahi habis-habisan tetapi Anda
tetap tersenyum, tenang dan tetap melakukan pekerjaan Anda. Apa sih rahasianya,
supaya bisa seperti itu?”, tanyanya.
Masih dengan senyum khas-nya petugas
penerbangan itu menjawab,”he...h, tapi
saya sudah membalas koq, Pak”, katanya lirih sambil melirik penumpang yang baru
saja memarahinya. “Membalas bagaimana?
Sejak tadi Anda kan diam saja, cuma tersenyum sambil menunduk-nunduk saja -
waktu saya lihat tadi...”, kata calon penumpang itu. “Saya membalas dengan yang saya bisa, Pak. Beliau tadi itu kan tiketnya
ke Bali, nah koper beliau saya beri label Jakarta, jadi... nanti beliaunya
sampai Bali, kopernya akan sampai di Jakarta”, katanya sambil tersenyum
kecut.
Senyum petugas bandara dalam cerita diatas adalah buah
keahlian yang terbentuk oleh latihan. Senyum keramahannya tidak dapat dibaca
oleh penumpang yang marah, yang akhirnya menyesatkannya.
Pikirkanlah cara yang baik dalam memberi kesan baik untuk
menyampaikan ketidaksetujuan Anda pada orang lain melalui pilihan kata yang
baik. Ungkapkanlah dengan nada suara yang bijak sambil tersenyum, jangan dengan
api kemarahan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar