
luka ini belum juga hilang
masih membekas, dan tak elok dipandang
luka ini belum juga kering
ngilunya merusak emosi jiwa hingga garing
pagi ini luka ini kembali berulang
menyayat nyerinya bukan kepalang
menusuk uluhati hingga ubun-ubun
menggoyang tubuh terhuyung-huyung
semalam, anak lelakiku yang belum genap remaja
mendadak mencengkeram lengan ibunya dalam nyenyaknya
menenggelamkan wajahnya dibawah bantalnya
seakan wajah bengismu sudah dikelopak matanya
sekalipun aku bukan gambaran idealmu
tapi, kau tak harus membenciku
biarkan aku ambil jalanku, seperti kau meniti jalanmu
bukankah dermaga yang sama yang kita tuju?
janganlah kau kehilangan daya pesona dan persuasi kata-kata
hingga kau membabibuta begini rupa...
atas nama siapa lagi kemarahan ini kau persembahkan?
sekira Sang Maha yang hendak kau bela, bukankah Ia pasti Digdaya?
sekira yang merasa sang maha hendak kau junjung, mengapa mesti begini caranya?
atau jangan-jangan... ulah kau saja yang ingin naik surga dengan tiket murahan?
atau…
Sabtu, 18 Juli 2009
Atas Nama Siapa Lagi?
Jumat, 10 Juli 2009
Di zamannya, penyair kondang William Shakespeare pernah berbicara tentang kemiskinan dan keadilan dalam karya dramanya yang berjudul King Lear.
Sabtu, 04 Juli 2009
MEY SIN (sebuah novel)
Cerita yang menggugah perasaan dan emosi selalu berasal dari kesederhaan kisah. Menyeruak hadir dalam kehidupan sehari-hari, mengejutkan, dan seringkali kita tidak menyadari gelombangnya.Selasa, 02 Juni 2009
JUBAH KEBESARAN
Baju yang dikenakannya malam itu nyaris seluruhnya hitam, tak terkecuali topinya yang tinggi menjulang, seperti topi pamannya orang Amerika. Dua buah kopor, warnanya juga hitam, tergeletak diatas meja malam itu menemaninya membuka praktik profesionalnya.
Malam itu, ia praktik tidak seperti biasanya; ia melakukannya dibawah kilatan cahaya yang saling silang, berikut backsound pun turut menyemarakkan suasana. Bukan dijalanan, tapi disebuah panggung megah yang ditonton jutaan orang, langsung maupun lewat televisi.
Dipraktikkannya beberapa nomor keahliannya yang selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini telah mampu menopang kehidupannya bersama keluarga. Selalu ada mantra yang diucapkannya setiap kali ia akan mengeksekusi praktiknya, aku tak tahu pasti, apakah mantra yang diucapkannya adalah untuk memohon kekuatan kepada Yang Maha Kuasa? ataukah untuk meyakinkan para undangan, bahwa ia adalah ahlinya? Selalu ada tepuk tangan yang riuh untuknya; antara kekaguman atau rasa geli, aku tak paham. Dan, diakhir penampilannya terjadi standing applaus yang panjang sampai membuatnya nyengir kebingungan.
Dia adalah Sutarno. Pesulap jalanan yang jum’at pahing malam lalu menjadi peserta acara ‘The Master - Mencari Bintang Tanpa Mantra’ yang disiarkan secara live oleh RCTI. Laiknya setiap laga, setiap peserta selalu dikomentari oleh para Dewan Juri, tidak terkecuali Sutarno yang sudah cukup sepuh (61 tahun) dengan pembawaan lugunya.
Juri pertama yang memberikan komentar adalah Master Mentalist yang baru memenangkan duel sebelumnya, yaitu: Joe Sandy. Sambil berkaca-kaca, ia bercerita, bahwa 30 tahun lalu, satu-satunya hiburan yang mampu disediakan oleh orangtuanya adalah menonton pesulap di pasar. Kesan tersebut sangat kuat tersimpan di memori otaknya, sehingga mendorongnya untuk belajar dan belajar tentang dunia magician, dan mengantarnya menjadi juara The Master.
Pengalaman yang sama juga dialami oleh Master Hypnosis Romy Rafael. Dimasa kecilnya ia sering sekali melihat atraksi pesulap jalanan. Yang kemudian menginspirasinya untuk mempelajarinya. Ia menabung uang jajannya hanya untuk membeli ‘rahasia sulap’ yang dijual para pesulap jalanan.
Berbeda dengan pendapat dua juri terdahulu, Master Mentalist Deddy Corbuzier memberikan penilaian yang tidak merdu untuk didengar oleh siapa pun, apalagi oleh Sutarno. Master Deddy menilai, bahwa penampilan Sutarno tidak layak untuk disejajarkan dengan para kontestan lainnya, yang usianya jauh lebih muda dan lebih kreatif. Namun, dibalik cacian yang dilontarkannya, Master Deddy Corbuzier mengakui bahwa tanpa Sutarno dan Sutarno-sutarno yang lain, Indonesia (barangkali) tidak akan pernah lahir Master-master baru yang sekarang ada. Sutarno, malam itu ditahbiskan sebagai The Master of Traditional Magician untuk pengabdiannya sebagai pesulap jalanan. Sutarno telah memenangkan laga tanpa tanding. Dan jubah kebesaran The Master telah dikenakan kepadanya. Salut !!!
Drama diatas memicu syaraf saya mengontak otak saya untuk membongkar memori, mencari para inspirator yang telah menanamkan benih hikmatnya untuk bekal perjalanan hidup saya. Saya jadi teringat guru bahasa yang mangajar sewaktu masih di SD, yaitu: Pak Hasyim.
Beliau yang mengajari saya bagaimana berbahasa yang baik. Dia bertutur bukan hanya mengajarkan bahasa, tapi beliau menanamkan nilai-nilai. “Bahasa menunjukkan bangsa”, katanya suatu ketika. Saat itu, saya mengartikannya sebagai ‘nasionalisme’, tentang keutuhan bangsa dengan bahasa sebagai pemersatunya. Dalam perjalanan waktu, saya bisa menemukan nilai-nilai lain dari ungkapan itu. Bahasa yang beliau ajarkan sudah memberikan banyak capaian dalam hidupku.
Selain beliau, masih banyak master-master lain yang menginspirasi perjalanan ziarah hidup saya. Saya yakin, masih ada master-master lain yang akan memberikan warna-warna baru dalam setiap perjalanan.
Seringkali kita lupa dengan benih-benih hikmat yang sudah ditanamkan pada diri kita oleh leluhur, guru, sahabat, teman atau siapa saja. Bahwa sekarang benih-benih hikmat itu sudah menghasilkan banyak buah, dan membuat hidup kita kaya. Saya percaya mereka ikhlas melakukannya untuk kita, tapi sudah layak dan sepantasnya bila kita memberikan penghargaan kepada beliau-beliau semua atas dedikasi dan pengabdiannya kepada hidup kita. Saya akan berusaha mencarinya, dan akan kukenakan jubah The Master kepada beliau dalam lawatan silaturahmiku.
Semoga!
Jumat, 29 Mei 2009
Ada Saatnya...
ada saatnya aku untuk berpikir...
menghitung setiap tarikan udara yang kuhirup
menghitung setiap jejak
menghitung langkah yang bakal kuayun
menghitung ...
ada saatnya aku harus diam
mengendapkan segala sesuatu;
tentang kenangan
tentang saat dimana bumiku sedang mengikat kakiku
tentang misteri masa yang belum kuterjang
maka aku harus diam mencari keheningan
ada saatnya aku mesti bertindak!
karena aku tak hendak bernostalgi dengan kenangan,
sebab ia akan mengikatku dalam kenisbian
semua labirin memiliki misterinya sendiri,
memilki keindahnya sendiri
maka aku harus bertindak
hai jiwaku...
janganlah meletakkan ragu dipelupuk mata
biarkan timbangan pikiran menjadi lentera
sebab perjalanan harus ditempuh
Jumat, 22 Mei 2009
SANG IDOLA
Ibarat penonton sepakbola, rakyat paling tahu kemana seharusnya bola ditendang untuk memuaskan dahaga emosionalnya. Rakyat paling merasakan kegetiran, bila tidak tercipta goal. Betapa tidak? Coba bayangkan! Berapa banyak rakyat sudah berkorban demi janji ‘sang idola’ yang tak kunjung mampu menciptakan goal? Sang idola hanya mampu membuat ‘peluang-peluang’ melulu. Fenomena ini pasti sangat menyesakkan dada, bukan? Belum lagi bila tingkah polahnya dalam bermain yang tidak bisa menghormati pemain lawan; menghalalkan segala cara dalam bertindak untuk sebuah ‘kemenangan’ semu, demi pembenaran diri sang idola semata. Pastilah tindakan tersebut akan menghasut penonton yang akan membuat mereka bertindak anarkis.
Wahai penonton, mari kita siapkan dan jaga diri kita untuk pertandingan akbar di negeri ini. Janganlah mudah terjerat keindahan fisik semata, tapi pilihlah pemain yang seperti Mario Kempes, idolaku. Yang bermain sangat elegant demi ‘fair play’ yang sesungguhnya. Sekali pun tak tercipta goal, jiwa kita akan sedikit terpuaskan oleh permainan yang cantik, bersih dan menghibur. Sejauh bola masih bundar, kita masih akan bisa menikmati permainan berikutnya dengan semangat dan harapan baru.
Semoga dalam pertandingan yang akan kita ikuti nanti akan tercipta goal yang sangat indah, yang akan membawa kita semua menjadi ‘masyarakat sejahtera.’
Semoga Tuhan berkenan!
Selasa, 12 Mei 2009
TRAGEDI SEBELAS TAHUN SILAM
Aku mengenang bukan untuk meratap
Tapi, agar aku lebih tegar menatap!
Hari ini, 12 Mei 1998
Kukenang sebuah episode perjalanan kemanusiaan bangsaku:
Bersama dengan seribu lebih meregang nyawa,
empat manusia pilar masa depan negriku terenggut rohnya dengan sia-sia
Dan tak terbilang penderitaan saudaraku yang lain, hingga detik ini masih menggelayut denyutnya
"Perjuangan pasti ada korban!", kata mereka mencari pembenar
"Omong kosong macam apa itu?", nuraniku menggugat
Wahai, Sang Pemilik Kehidupan...
kunaikan permohonan kehadirat-Mu bagi saudara-saudaraku yang tak diduniaku lagi;
tempatkanlah mereka ditempat yang tak terjangkau lagi oleh kebiadaban.
kuhunjukkan pula kehadapan-MU bagi mereka yang tak memiliki nurani lagi;
giringlah mereka ke liang pertobatan, agar mereka mati untuk hidup lagi dalam kemuliaan-Mu.
Aku mengenang bukan untuk meratap
Tapi, agar aku lebih bijak menatap!



