R.B.Zajonc, seorang pakar psikologi dari
Universitas Michigan di Ann Arbor berpendapat bahwa ada unsur psikologi yang
dapat dihubungkan antara meluapkan “perasaan gembira” dengan “sifat mental yang
positif.” Bagian raut muka manusia mempunyai otot-otot, akan tetapi ada juga sebagian
orang yang tidak mempunyai kemampuan melebarkan rongga mulutnya, sehingga ada
kesulitan tersendiri untuk bisa tersenyum. Secara fungsional sebagian dari
otot-otot tersebut masih merupakan misteri.
Apakah bentuk air muka yang nampak diwajah seseorang
adalah wujud presentasi sebenarnya situasi emosional yang ada dalam pikirannya?
Sebagai contoh, dapatkah kita melemparkan senyuman untuk
menghilangkan rasa takut kepada musuh? Jika seseorang sedang menghadapi masalah
yang menekan dirinya, apabila ia mampu tersenyum, maka senyumnya dapat membuat
dirinya gembira dan melupakan masalah yang dihadapi atau akan punya kemampuan
untuk menyelesaikannya dengan tenang.
Secara ilmiah, darah akan mengalir kebagian otak dan muka
melalui saluran darah yang sama yaitu, arteri karotid. Apabila seseorang tersenyum
atau mengerut dahi, maka otot wajah yang melintasi bagian tulang rahang akan
menjadi tegang dan ia akan menyebabkan darah lebih banyak dipompakan ke bagian wajahnya.
Melalui proses ini, perubahan terjadi terhadap kadar darah yang disalurkan
melalui arteri karotid yaitu, saluran
utama menuju ke otak. Keadaan ini akan melegakan perasaan seseorang. Teori ini
juga menjelaskan keadaan seseorang yang menjadi merah wajahnya. Keadaan ini
sebenarnya satu tindakan yang tidak sengaja. Orang yang menjadi merah wajahnya
sebenarnya ingin lari dari apa yang dialaminya.
Contohnya, perasaan malu. Ini terjadi apabila perjalanan
darah yang dipacu oleh sistem hormon adrenalin dalam badan telah dialirkan dari
otak ke saluran darah dibagian wajah hingga menyebabkan air muka seseorang itu berubah
menjadi merah. Air muka yang muram menyebabkan seseorang merasa tertekan, sedangkan
air muka yang ceria akan membantu memompakan semangat. Namun demikian,
kebenaran teori ini tidak dapat dijamin sepenuhnya karena senyum kadang-kadang bisa
dibuat-buat atau disengaja untuk melindungi perasaan marah atau kecewa (baca
cerita “senyum yang menyesatkan”)..
Bagaimanapun, terdapat juga alasan yang baik untuk
memastikan bahwa raut muka yang gembira akan merangsang perasaan Anda. Senyum
bukan saja menjadikan otak Anda merasa lega, tetapi mampu membuat orang lain
senang dan bersedia untuk berinteraksi dengan Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar